Rabu, 25 November 2009

Heroes!! Bag. I


(Semua tulisan dibawah ini bersifat Feature, saya bahkan campur aduk fakta dan fiksi, untuk kepentingan hiburan semata, kesalahan statement narasumber harap dimaklumi, karena saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari lupa dan lalai. Saya tidak mau berakhir seperti Prita Mulya Sari.... here we go..)

KEDATANGANNYA di sambut dengan kalung bunga! Bangga sekali pasti orang tua Eko. Iya orang tua Eko Yuli Irawan, Atlet angkat besi yang meraih medali emas pada kejuaraan dunia angkat besi 2009 di Seoul, Korea.

Saya hadir di bandara Soekarno Hatta kala Eko di sambut oleh ketua Persatuan Angkat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI)Adang Daradjatun dan perwakilan dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Sudrajat Rasyid.

Eko di sambut dengan kalung bunga bak pahlawan. Membanggakan! Saya hampir nangis!! Culun! Hiks.. cengeng! Tapi saya memang perasa. Saya selalu merasakan kejadian dari sisi terendahnya. Mungkin empati saya kelewat tinggi, jadinya cengeng!! Sial!

Apalagi waktu Adang Daradjatun bilang: "Biar masyarakat (yang ada di bandara) tahu, kalo Eko ini adalah pahlawan kita!!"
Saya mau nangis, eh si Eko malah senyum simpul saja. Hahah!

Tak hanya Eko, saya pun tak kalah bangganya bisa meliput kedatangan Eko di bandara Soekarno Hatta kala itu. Lagi-lagi saya mau nangis. Bedebah!

Saya pun ngobrol-ngobrol sama wartawan senior Media Indonesia (yang jelas lebih senior dari saya), namanya saya lupa, sebut saja Mr.X. Dia bilang: "Orang macam Eko itu pekerja keras."

Saya: "Maksudnya bang?"

"Iya Eko itu dulunya kan cuma tukang gembala kambing," lanjut dia.

Memang sebelumnya saya sudah pernah baca pemberitaan di harian Kompas yang mengatakan Eko dulunya cuma gembala kambing di Lampung. Ya, Eko itu bisa di bilang berasal dari keluarga kurang mampu.

Mr.X melanjutkan ceritanya: "Eko itu berasal dari bawah. Ketika dia diberi kesempatan untuk bisa berhasil, pasti dia bakal kerja keras. Beda kalo Eko itu dulunya dari kalangan orang mampu, begitu diberi kesempatan jadi Atlet belum tentu dia mau kerja keras."

Saya: "Ooo.. iya juga ya bang."

Terlepas dari itu saya kembali berfikir. "Yang sudah-sudah atlet itu cuma di sanjung saat dia jaya. Sesudahnya, di hari tua, atlet hanya di anggap sejarah," batin saya.

Bahkan (kalau tidak salah) saya pernah dengar Chris John (tapi kalau tidak salah ya, saya tekankan sekali lagi, saya tidak mau berakhir seperti Prita Mulya Sari!, jadi kalau tidak salah loh). Oke, saya pernah dengar Chris John agak khawatir dengan keadaan ini. Chris John takut di masa tuanya nanti hanya dijadikan sejarah belaka. Dan saya rasa semua atlet memiliki ketakutan yang sama.

Lantas apa Eko akan seperti itu? Terbuang jua nantinya di usia tua?
Who Knows! Hidung Siapa jawabnya! Waktu yang akan menentukan!

Yang jelas, bagaimanapun juga saat ini Eko pahlawan! Eko bersama ketiga rekannya yang berjuang di Korea saat itu. Dan juga. Atlet-atlet cabang lain yang berjuang membawa nama bangsa di ajang-ajang internasional. Selamat Eko Yuli Irawan!. RJ

Senin, 23 November 2009

Tangga darurat

DI KANTOR saya ada tangga darurat. Tangganya landai dan berkelok-kelok. Asik buat duduk-duduk. Merokok. Dan meludah! Sepertinya saya gemar betul menulis ludah di blog ini. Tapi memang begitulah adanya.

Belakangan tembok tangganya baru di cat. Warnanya biru pucat. Bau catnya membuat saya merasa pusing tiap kali berada di sana.

Ya.. tangga darurat. Kedengaran biasa saja. Semua gedung kan juga punya tangga darurat! Tapi tangga kantor saya begitu berbeda. Tangga itu, jadi saksi keluh kesah saya dan teman-teman. Biasanya, menjelang malam—sekitar pukul sembilan—kami baru ke sana. Pembicaraan bawah tanah kerap kali bergaung di sana.

”Wahai enam huruf. Gue cinta banget sama elo.” celoteh teman saya suatu ketika di tangga darurat.

Enam huruf? Kalian pasti bertanya-tanya. Enam huruf, nama cewek pujaan teman saya itu. Ya, cewek itu namanya ada enam huruf. Jangan heran. Kalau dia sudah begitu. Maka salah satu dari teman yang lain akan berkata: ”Tenang, lo pasti dapet dia.”

”Cuih.” Satu yang lain mulai gegap gempita meludah. Dan yang menyandar di tembok akan membuang puntung rokoknya. Sementara saya masih asik mendengar sembari menikmati tiap butir nikotin yang terkandung di dalamnya.

Kemudian ada suara lain dari lantai seberang. Pembicaraannya tentang wawancara. Saya dengar sedikit. Sedikit tak mengerti maksud saya. ”Ah dia sih emang begitu. Kalau di wawancarai nggak nyambung!” Ah ternyata soal wawancara..

Belum lagi saya habis mendengar. Teman saya yang sempat meludah, bangkit dan bilang: ”gue duluan, masih mau ngetik.” yang lain langsung mengangguk.

Hanya sejenak. Sejenak sebelum akhirnya genderang perang di tabuh. Ejek mengejek di mulai. ”Heh bibir lo panjang bener. Kalo ciuman, pasti dari jarak 10 senti udah kena ya.” Tawa kemenangan! Menang KO!

Dan yang di ejek, yang bibirnya paling panjang di seantero kantor itu selalu tak mau kalah. Dia bilang: ”Diam kau. Gendut. Babi air!” Hingga malam pun kian larut, dan dingin tak bisa lagi menahan tawa bahak-bahak kami.

Yang jelas, acap kali begitu. Di tangga darurat. Membuat suasana di sana selalu hangat dan tak pernah membuat saya bosan.

Seorang fotografer kantor saya pernah menuding tangga darurat kantor kami, sebagai tangga curhat! Curahan hati. Tak peduli tawa pilu senang duka. Tumpah ruah di sana. Saya pun setuju jika dikatakan demikian.

Saya jadi ingat. Belakangan saya sempat hitung jumlah anak tangga kantor. Di mulai dari anak tangga pertama ruangan redaksi saya. Dari lantai sembilan! Jumlahnya? Jumlahnya 120 anak tangga.

Terkadang saya memang sinting sendiri. Demi tulisan berjudul tangga darurat, yang entah ada atau tidak pembacanya ini. Saya rela menghitung jumlah anak tangga kantor saya. Tapi menulis itu butuh data yang akurat! Dan keakuratan berapa jumlah anak tangga dari lantai sembilan ruang redaksi, hanya bisa di dapat setelah di hitung sendiri. Toh hitungnya tak pakai rumus. Dan mungkin. Dan mungkin sebelum saya posting tulisan ini. Hanya saya dan tukang bangunannya yang tau berapa jumlah anak tangga itu. Edan!

Tangga darurat. Hmm. Sering kali diludahi, sampahi, kentuti. Tangga darurat si saksi bisu! Saksi yang melebihi kamera CCTV di manapun di dunia ini! Saksi yang melebihi Rani Juliani dalam kasus Antasari bahkan! Tangga darurat yang pernah menyelamatkan rasa was-was saya beserta seluruh penghuni kantor, kala gempa Yogya dan Ujung Kulon turut melanda Jakarta.

Dan mulai detik ini. Bahagialah kalian yang kantornya punya tangga darurat! Datanglah kesana bergerombol-gerombol, duyun-duyun. Merokoklah sebatang dua batang. Dan sedikitlah bercerita. RJ

Jumat, 20 November 2009

No passionate!!


"PERGILAH kau ke laut! Tangkap udang serta ubur-ubur. Nanti kau di makan ikan paus! Lalu di tolong lumba-lumba. Dan lumba-lumba pun bernyanyi acapella.."

Entah apa yang merasuki saya. Sertamerta kalimat di atas muncul dikepala. Ya saya tulis saja..

Saya tidak pulang malam ini. Saya mau ke laut. Tapi di Jakarta cuma ancol lautnya. Pula hitam airnya. Huh! Saya berubah pikiran. Jadi saya katakan lagi, saya tidak pulang malam ini. Dan entah saya mau kemana, dan apa alasannya..

Saya pun chatting. Pakai komputer kantor. Beruntung, dua teman baik sedang online. Saya tantang mereka ber*pilsener.

Mereka menyanggupi, seraya saya kembali menantang: "kuat berapa krat?" dan yang ditantang tertawa sinis.

Perkiraan saya malam ini akan hujan. Jadi dinginnya akan kami hajar dengan sebotol *pilsener. Ya, satu botol!! Tantangan berkrat-krat pilsener tadi hanya guyon belaka. Tapi sial! Saya bukan mama laurent! Dan malam pun tak hujan.. :(

Toh malam berjalan seperti biasanya. Tak ada beda. Seorang-seorang dari kami mulai minum. Di taman. Taman yang juga masih seperti biasanya. Ramai sepi. Orangnya ramai tapi suaranya sepi. Hanya Taro menemani. Ya, Taro snack!! Empat ribu perak harganya.

Lambat laun saya jadi ingin ke toilet. Selalu saja seperti itu. *Pilsener di beli hanya untuk dibuang lagi, secara cepat. Selang beberapa menit usai ditenggak! Dan saya pun ke toilet. Tapi toiletnya tak ada. Jadi saya duduk saja, menahan-nahan! Begitu pula teman saya.

Dan malam pun melarutkan dirinya sendiri. Larut dalam angin. Sepoi-sepoi lagi. Asik! Saya jadi ingin berdendangkumandang. Lagunya lagu lama. Andrew WK. Saya nggak hapal lirik. Cuma hapal nada. Dan saya pun bernyanyi na..na..na..!

Hingga waktu tau-tau jadi jam sembilan. Gawat! Teman saya minta pulang. Karena dia naik angkot. Dan larut malam itu tak berangkot! Sial. Berarti kesenangan berakhir di angkot!

Dan kami pun pulang. Ah ya, saya akhirnya pulang juga. Padahal tadi saya enggan pulang. Saya memang labil. Kadang. Atau sering.

Pernah suatu kali saya janji pergi. Lantas saya batalkan babibuta. Begitu seringkali.

Sempat terpikir untuk balik ke kantor, menyepi di tangga darurat. Tangga darurat kantor saya! Tangganya landai. Asik buat duduk-duduk......

Kalian mau tau cerita di balik tangga darurat kantor saya? Coba kalian cek posting saya tentang tangga darurat, mungkin saja sudah ada. Kalau belum, berarti sedang saya tulis..

Dan apa yang saya rasakan kini. Jadi teringat kalimat yang muncul di kepala saya awal tadi. Sepertinya kalimat itu sengaja "dimunculkan" tuhan, untuk orang-orang yang sedang tak bergairah seperti saya ini: "pergilah kau ke laut! Tangkap udang serta ubur-ubur. Nanti kau di makan ikan paus! Lalu di tolong lumba-lumba. Dan lumba-lumba pun bernyanyi acapella.." RJ. :)

Penulis Alay

JIKA benar kami adalah penulis alay, maka sebutlah begitu. Karena pada dasarnya apapun kami tulis. Kami? Ya, aku dan dia! Sebut saja namanya Jati Mahatmaji. Kawan lama, waktu di Sekolah Dasar dulu.
Konon, waktu kecil Jati hampir sempat di panggil Yati, gara-gara di kira perempuan! Rambutnya keriting, afro! Setelah sekian lama nggak ketemu, ujug-ujug Jati muncul di Facebook, dengan berpuluh-puluh ratus juta keanehannya.

Saya sempat berpikir Jati sudah gila. “Jati sudah banyak berubah. 180 derajat dari Jati jaman SD” batin saya. Itu loh, tulisannya! Tulisan-tulisannya yang saya temukan di blog keroyokan bertajuk www.ceritamahasiswa.multiply.com membuat saya yakin, ternyata Jati memang salah satu penulis gila!

Tapi yang jelas ada satu hal. Satu hal yang benar-benar bikin saya iri dari seorang Jati.. Sempaknya! Benar, sempaknya! Dari sebuah ceritanya di blog saya prediksikan sempaknya merk Hings! Maaf kalau salah. Tapi setahu saya sempak merk itu sekarang susah di dapat! Dan saya nggak punya! *nangis darah lewat pantat..

Saya sempat ngomong dalam hati begini: “Enak ya kamu Jat, bisa berHings-Hings ria setiap hari” Sementara saya, apa? Hanya bisa berpierrecardin-Pierrecardin ria. Paling banter ya ber GT-Man ria! Dunia ini memang tidak adil.

Saya melanjutkan lagi dalam hati: ”Kapan ya kita bisa jalan bareng Jat? Supaya saya bisa curi sempakmu yang merk Hings!”
Tapi. Tapi kalau Jati dengar ini pasti dia mau memberikan satu sempaknya untuk saya. Oh terima kasih Jati! Apa mungkin?!

Ah.. kembali ke tulisan Jati. Gaya tulisannya sulit di mengerti. Dan menjijikan! tapi demikian juga tulisannya menjadi kian bisa di nikmati. Aku sayang kau Jat. Kita memang penulis alay! *merasa bangga? 

Suatu ketika kamu harus masuk ke blog keroyokan dia. Nih saya kasih sekali lagi linknya: www.ceritamahasiswa.multiply.com Kamu pasti muntah! Tapi mau nambah! Tulisannya sangat alay ria jenaka. Lebih alay ketimbang peraih nobel alayisme sebelumnya. Liar dan menggigit! halah!

Jati memang langka!! Saya akui! Demi tuhan dan segala ciptaannya! Jati memang berusaha menghancurleburkan mainstream dunia tulis menulis..

Rabu, 18 November 2009

Rangga Jingga

AKU tak ingin menjadi senja yang memanggil turun mentari, hingga membuat penglihatanmu atas keindahan semesta alam sirna seketika..

Namun aku juga bukanlah pagi yang akan menjanjikan mu sebuah kehidupan baru..

Selasa, 17 November 2009

Aku di hari Jum'at

SEMUANYA berjalan seperti biasa. Kendaraan-kendaraan tengik melambat dengan bodohnya, beriringan layaknya semut. Bedanya mereka berbicara, melalui klakson-klakson pancaragam bunyi. Mulai dari bunyi klakson standard, bunyi klaskson bus, hingga bunyi terompet roti keliling. Dan aku. Aku terjebak di dalam helm busuk berbau menyerupai bau di tempat pembuangan akhir. Yang sangat akhir. Paling akhir. Saking baunya. Bodoh. (Aku berjanji mengganti helm ini sejak setahun lalu, hingga kini helm itu warnanya sudah pudar, lapisan busa-nya mencoklatkan diri akibat debu).

Ternyata bukan aku seorang. Bahkan bisa kukatakan 80 persen pengendara motor di sekitarku menggunakan helm sampah. Rupanya tak keru-keruan. Dari melihatnya saja aku bisa tahu beberapa helm dari mereka itu lebih dashyat baunya. Cuih!

Aku melayangkan pandangan ke arah samping, ke deretan tiang-tiang pagar sebuah pertokoan, sementara kemacetan ini sendiri seakan tak berujung. Tepat di depan pandanganku kini adalah spanduk dari institusi POLRI. Isinya bertuliskan apa yang baru saja kubicarakan. Tentang helm! Polri menghimbau penggunaan helm dengan baik dan benar. Di pakai, lalu di pasang talinya hingga terdengar bunyi ’klik’. Dan yang paling menimbulkan argumentasi adalah helm anjuran harus berkode SNI! Ya, SNI atau Standard Nasional Indonesia. Lucunya kata Standard yang harusnya memakai ”D” di tuliskan dengan ”T”, menjadi Standart Nasional Indonesia. Tapi lupakanlah penulisan itu, toh aku pun belum sempat mencari tahu apakah jika di tulis dengan huruf ”T”, sah-sah saja atau tidak.

Yang jelas jika memang harus ber-SNI apa jadinya helm-helm impor keluaran luar negeri, yang notabene-nya sangat terjamin keamanannya namun tidak berlogo SNI? Perutku tergelitik riang. Gejolak tawa yang tertahan membuatku seraya mau muntah pada saat yang sama. Muak. Muak dengan pembuat peraturan yang nyatanya dirinya saja enggan mematuhi peraturan tersebut. Sering kali aku melihat. Sebelumnya maaf. Tapi tak jarang aku melihat seorang oknum aparatur negara itu tak menggunakan helm sama sekali ketika berpatroli. Mengingat hal itu, tawaku tak tertahan lagi. Aku tertawa. Terkekeh. Motor disebelahku sempat menengok ke arahku dan buang muka. Di kiranya aku orang gila! Orang gila tapi mengendarai motor!? Lalu siapa yang gila sekarang?!

Akhirnya aku sudah mencapai 50 meter jauhnya, terhitung sejak melihat spanduk tadi. Sementara isi dan tetek bengek pesan spanduk terlupakan, kemacetan belum juga menemukan pangkalnya! Klakson-klakson kembali diperdengarkan. Yang bunyinya menyerupai terompet roti kelilinglah yang paling ramai dan berisik. Gaduh sekali siang itu. Teriknya matahari membuat nuansa siang itu seperti di neraka! Sedikit saja senggolan antara pengemudi motor, pasti pertikaian akan terjadi! Konon pertikaian tak akan menghampiri pengemudi mobil karena mereka tidak kepanasan. Kecuali Bus dan Angkot!

Hampir saja aku menginjak sepotong kaki beralas sendal butut. Orangnya besar, sebesar Gorilla tapi tanpa bulu mengelilingi tubuhnya. Kakinya selintas hitam terbakar matahari. Kukunya panjang dan tak kalah hitamnya dengan warna kulit. Tai kuku! Untung tak terinjak! Klo kakinya terinjak, aku bisa ditendangnya saat itu juga! Dan ditendang, berarti tai kukunya bisa saja loncat kearahku!

”KOSONG KOSONG, KIRI KOSONG!” cepat saja suara lantang itu membuyarkan lamunanku dari tai kuku. Ternyata itu suara kenek bus yang mencoba membantu sang sopir memotong jalan kiri. Klakson kembali menggelegar. Kali ini dari mobil pribadi yang tak rela jalannya di potong bus.

Aku kembali menatap jalur depan. Sepintas dikejauhan terlihat seonggok kontainer. Sedari tadi aku perhatikan tak bergerak sedikit pun. Spekulasiku mengatakan kontainer itu sedang mogok. Menjadi penyebab segala kekacauan ini! Sialan!

Ku geser sedikit jaket di lengan, hingga jam merk Casio menyembul keluar dari dalamnya. Pukul dua siang lewat tiga puluh menit! Aku harus segera sampai ke kantor, pikirku! Jam tiga paling lambat! Tidak tidak, sebenarnya jam empat pun tak apa. Sabar!

Pandangan kutujukan ke langit. Masih panas. Terik. Puluhan derajat celcius. Entahlah. Yang pasti tak ada awan hitam di sana. Aku semakin mendekati kontainer sialan itu! Ingin sekali memastikan apakah benar dia penyebab semuanya. Aku memaki dalam hati! Panas! Emosi jiwa!

Dan sampailah aku di sebelahnya. Benar-benar di sebelah container itu. Bannya hampir setinggi motorku. Asap knalpotnya mengepul dari samping bawah. Dan mesinnya menyala keras! Dia pun berjalan perlahan! Ternyata bukan kontainer penyebabnya! Demi tai kuku dan helm yang berbau sampah ini, maafkan saya yang curiga kepada kontainer! Lantas apa? Apa penyebab semua kemacetan ini?!

Pandangan kemudian kualihkan ke arah bodi kontainer. Tulisan KhongGuam tertera jelas di bodinya yang mulai berkarat. Entah apa arti di balik tulisan tersebut. Mungkin itu sebuah merk produk tertentu. Atau nama perusahaan di mana kontainer itu bekerja. Bekerja siang dan malam dengan hanya di beri upah isi bensin dan ganti oli tiap bulan! Syukur-syukur jika di ajak tune-up sekali sebulan. Jika kontainer itu manusia, mungkin sudah teriak sekarang!

Aku terlalu lama melamunkan arti KhongGuam. Hingga tak sadar asap kontainer mengepul deras, membabi buta ke mukaku! Lumayan make-up gratis kelakarku. Sialan tujuh turunan itu kontainer! Lagi-lagi jika kontainer itu manusia mungkin sekarang sudah terkikik puas melihat mukaku penuh asap knalpotnya! Berengsek!

Lagi-lagi pikiranku kembali ke kata KhongGuam. Aku eja betul tiap hurufnya dalam hati. Sekilas seperti nama produk biskuit. Biskuit sejuta umat, yang hampir terbeli oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari kelas rendahan hingga kelas birokrat. Hah tapi apa iya. Peduli amat!
Sampailah aku di lampu merah. Perempatan pasar Jumat. Aku menoleh. Kemacetan masih panjang dibelakang. Si motor dengan klakson terompet tukang roti keliling kini di sebelah kiri ku. Semoga dia tidak membunyikan klakson! Dan sebelah kanan! Sebelah kanan ada si Gorilla tai kuku! Matanya menatap tajam di balik helm hijau kumal bertempelkan sticker Malrboro. Lantas ia tersenyum. Tersenyum ke arahku yang awalnya memandang jijik tai kukunya. Slogan bodoh yang berbunyi ’jangan menilai buku dari sampulnya’ ternyata berlaku di sini. Badan mirip Gorilla, ber-tai kuku yang sempat ku sumpahserapahi dalam hati itu, sejatinya baik dan murah senyum!

Aku balas senyum itu dengan kecut. Dia tak peduli, lalu kembali menatap ke depan. Aku pun buang muka. Menatap lampu merah yang tak kunjung hijau.

Datanglah seonggok bocah kearahku meminta uang –kukatakan seonggok bocah, karena kehadirannya acap kali hanya di anggap patung di pinggir jalan—mengais-ngais receh. Kalau tak diberi uang, mulutnya akan komat-kamit menggerutu. Aku pun tak memberi uang. Mulutnya berkecumik entah apa yang dikatakannya. Tapi dari gerak bibirnya aku bisa membaca, ’dasar pelit’! Sial!

Tak apalah pikirku. Toh dia hanya anak kecil yang salah aturan. Salah didikan orang tua. Orang tuanya demikian juga karena ’terbuang negara’. Hidup di negara yang secara tidak langsung telah membuangnya di jalanan tanpa membekali setetes pengetahuan pun.

’TET TOWET TOWET’ suara yang tak asing lagi. Sial betul aku hari itu, tiga kali mendengar klakson bising dari motor terompet roti keliling. Rupanya lampu sudah hijau. Klakson-klakson bersahut-sahutan mengusir kendaraan di depannya agar segera tanjap gas. Cepat. Sebelum lampunya kembali merah.

Jalanan mulai melancar, aku tak habis pikir apa gerangan yang membuat kemacetan tadi. Apa lampu merah? Ah klise! Lampu merah sudah berdiri di situ bahkan sejak 10 tahun lalu, sejak jamannya aku masih menggunakan seragam putih biru pergi ke sekolah. Masa iya baru kali ini menimbulkan kemacetan siang bolong. Tidak mungkin! Lagi-lagi lantas apa?

Aku lajukan kecepatan motor di atas rata-rata. Hampir 90 kilometer. Harap-harap cemas, segera sampai di kantor. Belum lagi sampai perempatan lebak bulus, kemacetan kembali merongrong. Naas.

Jika ini pagi hari, wajar rasanya macet melanda. Tapi ini hampir pukul. Aku lihat kembali jam tangan Casio. Ternyata pukul tiga lewat sepuluh menit. Aneh jika macet jam segini.

Beruntung, tak lama aku sampai lampu merah yang kebetulan posisinya sedang hijau. Ku tancap gas dengan bunyikan klakson panjang, suaranya lebih mengganggu dibanding suara terompet roti keliling. Dan berhasil. Aku tidak terjebak lampu merah.

Perjalanan ku sambung dengan melewati komplek perumahan Pondok Indah (PI). Komplek yang konon hanya ditinggali oleh orang-orang kaya dan para ekspatriat muda. Terlihat jelas, jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin di sini.

Kupapasi tukang gorengan pikul. Tubuh dan pikulannya terlunta-lunta di hadapan megahnya bangunan komplek PI. Semoga ada yang membeli dagangannya. Aku menerawang. Sesampainya tukang gorengan di rumah dia akan memamerkan jerih payahnya kepada sang anak, dengan berkata: ”Lihat ayah dapat lima puluh ribu.”

Sang anak akan menyambut: ”Horee”

Terawanganku yang kedua adalah, jika si tukang gorengan tak membawa uang banyak. Lalu dengan hati-hati si tukang gorengan menaruh pikulannya lemas, berharap anak dan istrinya sudah tertidur pulas di dalam bilik kontrakan 3x4, sehingga ia tak perlu menjelaskan betapa sulitnya mencari selembar 50 ribu jaman sekarang.

Aku sampai di ujung pintu keluar komplek PI. Bangunan tak kalah megah menyambut dengan sombong. Tak kalah sombong dengan apa yang kulalui barusan. Namanya juga hampir mirip, hanya di tambah kata ’Mall’ dibelakangnya. Menjadi Pondok Indah Mall (PIM). Bangunan itu masih saja terlihat angkuh. Tak hanya satu. Bangunan itu ada dua. PIM I dan PIM II. Aku sering masuk ke dalamnya. Lantas, apakah aku juga bisa dikatakan angkuh karena telah berupaya masuk kedalamnya beberapa kali? Entahlah.

Aku pun dipaksa belok kiri lantaran arah kantorku memang harus belok kiri. Dan terlihatlah di seberang sana, Masjid Raya Pondok Indah. Kelihatannya ramai nian di sana. Seperti ada pasar malam. Bedanya ini sore. Ya, sore! Bukan siang lagi! Berarti namanya pasar Sore!

Ngomong-ngomong kau tahu pasar malam? Pasar yang di dalamnya terdapat berbagai permainan liar. Mereka berkeliling dari satu daerah ke daerah lain menjajakan permainan demi, lagi-lagi receh! Cuih! Aku benci mendengar kata-kata receh. Seakan uang itu tak ada harganya! Padahal dulu dua puluh lima perak masih ada artinya. Dulu.

Pikiranku mengambang jauh. Sangat jauh. Berpikir sejak kapan ada pasar macam itu di Masjid Raya Pondok Indah. Pikiranku berkecamuk. Perang batin kedua kembali tersulut, menyaingi Perang Dunia jilid dua yang mencakup Eropa tengah dan timur yang menewaskan lebih dari 50 juta manusia. Sinting!

Kau tahu apa? Pikiranku semakin menggila saat menyadari hari itu adalah hari Jum’at! Dan aku lupa sholat Jum’at! Tobat!

Ku rentet semua kejadian tadi, di mulai sejak kemacetan. Ternyata semuanya akibat itu hari Jum’at. Semua pria –entah itu berangkat ke kantor atau baru mau keluar makan siang—baru pergi lewat pukul satu, lantaran sholat Jum’at dulu. Masjid Raya PI yang layaknya pasar malam juga lantaran hari Jum’at. Para pedagang biasa menjajakan barang dagangan di sekitar masjid, dengan harapan orang-orang –sehabis sholat Jum’at akan membelinya— dan yang kusaksikan tadi, mungkin hanyalah sisa-sisa pedagang yang akan pulang, mengingat ini sudah terlampau sore, pukul setengah empat! Tak mungkin masih ada orang sholat Jum’at sore-sore begini.

Dan aku yang tak menyadari semua ini, telah melanglangbuanakan pikiranku ke macam-macam tempat. Di balik helm busuk ini. Termakan dalam dunia imajinerku sendiri. RJ