Rabu, 23 Desember 2009

Kecoak terbang!


POSTINGAN kali ini tentang kecoak!! Kenapa?? Simple saja. Karena saya baru lihat kecoak!! hahaha sinting lagi kan..

Iya saya lihat kecoak di rumah teman. Biasa saja. Di rumah saya pun ada. Masalahnya kala itu di rumah teman saya malah jadi membahas kecoak Indonesia sama kecoak Amerika! Makin gila kan.. Tapi toh karena begitu saya dapat ide menulis! #Halah

Kecoak yang saya, eh kami lihat, itu kecoak terbang! Seperti biasa, kecoak Indonesia warna coklat buluk. Lantas teman saya bilang, kira-kira begini, "Kok kecoak Indonesia beda sama kecoak Amerika ya? Kecoak Amerika lebih gede gitu, bagus.."

Saya: "Iya ya.. Yang di Amerika itu bukannya kecoak Afrika ya, yang bisa di makan itu?"

Teman saya: "Iya gak kaya kecoak Indonesia jelek."

Saya: "Kecoak di sana garis-garis gitu kan."

Teman saya: "Iya.. Oh mungkin sama kaya manusia. Bule lebih keren dari pada Indonesia. Kecoak bule juga lebih keren dari kecoak Indonesia. Coklat dekil."

Saya: "Iya. Hahaha. (aseem, kenapa bule selalu diindentikan lebih keren!!!)"

Bodoh nian, pembicaraan kecoak bule dan kecoak Indonesia! Tapi andai saja kecoak bule dan kecoak Indonesia dipertemukan mungkin akan ada pembicaraan seperti ini:

Kecoak bule: "Hallo"
Kecoak Indonesia: "Oh hai"
Kecoak bule: "Apa kabar?"
Kecoak Indonesia: "Baik baik"
Kecoak bule: "Badan kamu dekil banget sih."
Kecoak Indonesia: "Ah masa sih?? Gak apa-apa deh yang penting saya bisa terbang!"
Kecoak bule: "Ah belagu. Kecoak kaya saya biasa di makan manusia di acara Fear Factor. Kamu enggak.."
Kecoak Indonesia: "Ah sombong!"
Kecoak bule: "Badan saya lebih gemuk dari kamu! Kamu mainnya juga di got!"
Kecoak Indonesia: "Biarin! Dari pada kamu, kecoak tapi coraknya garis-garis mirip lipan!"

Gila! Miring!

Eniwei. Sesaat usai bicara kecoak, eh kecoaknya malah pergi. Kabur entah ke mana. Mungkin dia mau santai-santai di got!
Satu hal yang paling saya benci dari kecoak terbang. Dia terbang tak pernah jelas. Kiri kanan depan belakang atas bawah! Malah lebih sering terbang ke arah manusia! Gembel itu kecoak! Kecoak bodoh. Made in Asia. Kalau di injak mejret, banyak airnya pula!

Kalau saya mau jadi cicak dan nyamuk di postingan sebelumnya. Saya ogah jadi kecoak di postingan kali ini. Sudah ah, nanti saya sinting beneran.. Hehe..

Selasa, 22 Desember 2009

Batuk berdarah

SETIAP pekerjaan mempunyai kelebihannya masing-masing kawan. Even itu pekerjaan yang di anggap rendahan macam kerja otot. Namun, tiap pekerjaan yang di ambil, mempunyai tujuan garis besar yang sama. Ya untuk menyambung hidup! Lantas bagaimana jika pekerjaan justru menyakiti anda? I mean secara tidak langsung membuat penyakit lama anda semakin menjadi-jadi?

Saya sakit batuk kawan. Biasanya kalau sudah batuk begini, sembuhnya bakal lama. Dan benar saja, sejauh ini sudah dua pekan saya lewati dengan batuk-batuk.

Yang paling menyedihkan dari batuk saya yaitu berdarah. Iya kalau sudah menginjak dua pekan batuk saya bakal berdarah!! Cukup bikin saya stress juga. Tapi memang dasar bandel. Saya urung ke dokter!

Pekerjaan ini memaksa saya hanya libur sekali selama seminggu. Bahkan tak jarang malah tanpa libur. Tapi ini konsekuensi yang sudah saya tanda tangani dalam otak sejak awal sesi wawancara kerja saya di kantor 11 bulan silam. Waktu itu saya diperingatkan pewawancara, bahwa pekerjaan saya nanti akan jarang menemukan waktu libur. Toh saya iyakan karena sangat logis, mengingat pekerjaan 'ini to inform'. Dan peristiwa tetap akan terjadi meski weekend sekalipun. Ya sudah saya nikmati saja pekerjaan ini sampai akar-akarnya.

Batuk oh batuk. Berdarah pula. Saya sempat pikir-pikir, darah bisa sembuh dengan alkohol. Saya jadi mau mampir ke CK atau 7 Eleven beli pilsener atau Heineken. Tapi apa iya batuk darah saya karena luka di leher?! Ah pikiran bodoh!

Hari ini hujan. Saya harus liputan lagi. Batuk hanyalah batuk. Karena tugas tak bisa di tunda. Semoga darahnya cepat berhenti ya kawan... RJ

Jumat, 18 Desember 2009

Nyamuk

WAH tiba-tiba saya jadi mau menulis. Tapi tulis apa yah. Ya sudahlah tulis apa saja. Seperti biasa saya enggak peduli ada pembacanya atau tidak.

Tapi saya percaya. Setiap tulisan dibuat untuk di baca. Jadi ya saya tulis sendiri. Ya baca sendiri juga. Hahaha.. Sinting nian saya malam ini. Tapi tak apa lah.
Dari pada tak terbaca.

Saya masih berada di kamar 4x6 meter. Masih dengan penyakit insomnia berkepanjangan. Dan tulisan kali ini pun masih saya gunakan untuk berusaha menghancurkan mainstream tulis menulis.

Tak ada cicak malam ini. Cuma ada nyamuk. Jadi saya bicara nyamuk saja! Aha! #dapatangin

Nyamuk rumah saya ganas-ganas loh. Tiap hari jadi donor darah, saya dibuatnya! Bangke! Bangke segala bangke! Bangke yang paling bau! Kata Eno Lerian sih karena saya malas bersih-bersih. Emang iya.
.

Omong-omong tentang nyamuk. Filosofi nyamuk itu menyebalkan juga! Menghisap darah sebanyak-banyaknya hari ini, esok pagi siapa yang tahu. Untung-untung enggak "hap lalu ditangkap"!

Omong-omong tentang nyamuk. Yang hisap darah cuma nyamuk betina teman! Kasihan juga kalau nyamuk betina kita tepuki. Nanti spesies nyamuk bisa punah. Wah macam macan kumbang saja diambang kepunahan!

Ah nyamuk! Saya suka iseng tangkap nyamuk. Saya tangkap. Tapi tidak saya bunuh. Cukup di tangkap dengan genggam tangan. Kalau sudah begitu saya cemplungi dalam ember air. Eh nyamuknya ngambang! Entah seru, entah kurang kerjaan. Tapi pagi buta begini, mau apalagi. Tepuk nyamuk ya tepuk saja. Toh dia hisap darah ya hisap saja.

Kalau kemarin saya mau jadi cicak. Maka sekarang saya mau coba jadi nyamuk. Iya nyamuk. Nyamuk yang ceria! Selalu ceria! Hisap sana hisap sini. Duh asiknya. RJ

Senin, 07 Desember 2009

Naik Gunung


SAYA peringatkan, cerita berikut ini cuma tetek bengek semata. Sekedar cerita saya waktu naik gunung, waktu jaman kuliah semester satu dulu. Nggak ada yang spesial dari cerita ini. Toh saya bukan publik figur! perginya pun cuma sama teman-teman SMA dulu. Jadi ya biasa saja! Coba kalau saya ini publik figur. Cerita saya kebelet buang air aja bisa jadi cerita seru! Sialan. Dunia ini memang kejam!!

Layaknya dalam dunia Jurnalistik, human interest bermain di sini. Contohnya, jika ada anjing menggigit manusia itu hal biasa, tapi kalau ada manusia menggigit anjing itu baru berita luar biasa. Ya ampun, human interest!

Semua cerita di postingan ini nyata. Tidak ada yang dibuat-buat. Untuk datanya saya tambahkan dari wikipedia dan Google. Itu saja. Kalaupun ada kesalahan cerita, itu karena saya sudah lupa. Kan kejadiannya sudah lama sekali!

Eniwei.. Here i go.. Saya baru dua kali. Catat. Baru dua kali naik gunung. Gunungnya toh sama, Gunung Gede Pangrango! Saya bukan expert dalam hal pergunungan :(. Dan ini cerita pertama kali saya naik gunung.

Betapa antusiasnya saya kala itu. Dengar-dengar, naik gunung itu sama seperti uji nyali. Kehidupan kita hanya akan dijamin oleh barang-barang yang kita bawa di ransel. Kalau di ransel kita bawa Indomie, kornet dan sarden, maka jangan harap di atas gunung nanti kita bakalan makan roti! (Sebelumnya maaf. Saya awam soal naik gunung. Anak gunung sejati pasti akan menertawakan kecemenan saya ini! Jadi maaf. Dan silahkan tertawa wahai pendaki ulung!)

Gunung Gede memiliki ketinggian 1.000 - 3.000 meter diatas permukaan laut (mdpl). Dan orang yang saya rasa paling tepat untuk saya interogasi sebelum mencoba naik ke sana, adalah kakak saya! Kakak saya cuma cewek biasa. Tapi dia adalah masternya naik gunung!!

Banyak wejangan yang saya dapat dari dia. Mulai dari tempat mendirikan tenda. Sumber mata air. Sampai persiapan barang bawaan. Cukup membantu bagi saya yang baru sekali naik gunung. Memang saya ke sana nggak sendiri, tapi berlima. Dua orang di antara kami bisa dibilang udah cukup ahli naik gunung.
Maka berangkatlah kami menanjaki Gunung Gede...

Kata teman saya. Lebih baik berangkat tengah malam. Supaya sampai di kandang badak, pas subuh-subuh. Kandang badak itu salah satu lokasi mendirikan tenda di Gunung Gede, dijadikan tempat mendirikan tenda, karena sumber mata airnya cukup dsana. Ketinggiannya 2.220 mdpl!

Semoga tidak hujan pikir saya. Ah langitnya cerah. Penuh bintang-bintang. Jadi tak akan hujan. Asiik!

Kami jalan beriringan, karena trek berupa jalan setapak cuma muat maksimal untuk dua orang dewasa. Waktu itu trek di Gunung Gede masih tanah batu-batu, beda dengan sekarang yang sudah di bangun menyerupai tangga, dari papan kayu. Jadi waktu itu pendakian jauh lebih berat dari sekarang.

Jalan beriringan, saya ogah ada di paling depan. Soalnya saya belum tau medan. Tapi Saya juga ogah jalan paling belakang. Nanti dicolek setan gunung!
Perjalanannya sunyi tidak ada suara lain. Hanya suara kami berlima. Kalau ada yang keenam itu pasti setan. Yakin.

Setiap orang pegang senter masing-masing. Setiap orang memanggul ransel masing-masing. Bodohnya, bahan makanan tidak di sebar di tiap-tiap ransel, melainkan di tumpuk jadi satu di ransel tertentu. Tenda juga dibebankan hanya pada satu ransel. Jadi kehilangan satu ransel saja bakal jadi malapetaka! Kalo gak kehilangan bahan makanan, ya kehilangan tenda. Saya baru menyadari ini setelah lama nggak naik gunung lagi.

Dan perjalanan pun dilanjutkan. Saya sambil merokok. Selain rokok Marlboro Lights yang saya siapkan. Saya juga bawa rokok Sampoerna hijau. Rokok kretek paling tepat di bawa naik gunung. Sedang rokok Marlboro cuma untuk mengatasi kerinduan saja, kalau tiba-tiba saya sakau Marlboro.

Kami tiba di kawasan Telaga Biru. 1,5 Km dari gerbang pendakian. Checkpoint pertama kami. Disana bisa lihat-lihat pemandangan. Berhubung itu tengah malam, jadi ya gelap. Paling-paling ada sekelebatan putih-putih, sambil haha hihi!

Di telaga biru, kami santai-santai dulu. Saya merokok sambil makan Beng-Beng. Tapi lama-lama telaganya jadi seram. bukan main seramnya. Lah iya, itu sudah jam 12 lewat. Hampir jam satu. Tak mau lama-lama, teman saya usul supaya perjalanan dilanjutkan. Saya lalu makan gula merah. Naik gunung wajib bawa gula merah, kata teman saya. Soalnya itu bisa nambah stamina, dan gak cepat haus juga.

Eniwei, sebelumnya. Baik kakak saya maupun teman saya sudah mengingatkan kami akan melewati air terjun yang airnya panas. Sekitar 5,3 Km dari gerbang awal. Air terjun itu jadi checkpoint kedua. Di sana harus hati-hati. Kita cuma menapak batu kali. Sambil berpegangan pada kawat baja. Bagi pemula seperti saya, sarung tangan wajib hukumnya. Karena kawat bajanya banyak yang mengelupas.

Jadi ekspektasi saya hanyalah air terjun air panas. Ya! Rintangan pertama hari itu. Ah, saya sudah tidak sabar, merasakan adrenalinnya. Soalnya salah-salah bisa jatuh ke bawah jurang. Dan. Mati. Zzz..

Saya berkali-kali tanya, "masih jauh air terjunnya??"
Teman saya, "Dikit lagi, sabar."

Ah saya pun makan beng-beng lagi. Ngeroko lagi. Gula merah lagi. Waktu itu jantung saya masih kuat ngerokok sambil jalan nanjak. Tak tahu kalau sekarang.

Hmm benar saja. Dari jarak sekian ratus meter, suara air terjun sudah mulai terdengar. "Lo dengar tuh, air terjun sudah dekaat," kata teman saya.

"Wah-wah iya," jawab saya.

Maka sampailah kami di air terjun. Kami harus menyebrang. Injak batu-batu licin. Gelap pula. Saya pakai sepatu converse canvas, ditertawakan teman saya! Katanya begini, "lha mau naik gunung apa mau ke mall?" Saya jawab saja, "lha ini gaya baru, gw harus dapat royalti dari converse, karena sudah membuktikan sepatunya kuat di segala medan." hahaha.

Dan benar saja, sepatu converse itu licin injak batu. Kalau tidak dipegangi teman saya, saya bisa terjun bebas. Belum lagi air panasnya tembus ke dalam sepatu. Saya makin mau mampus.

Dan selamatlah kami menyeberang air terjun! Kalau sudah lewat air terjun sudah aman. Tinggal menuju checkpoint ketiga. Kandang badak! Disana tinggal bangun tenda dan tidur! Wah enaknya pikir saya. Maklum saya sudah mulai lelah!

Menuju kandang badak, satu persatu kami mulai KO! Mulai detik itu semakin banyak istirahatnya. Iya, sekedar duduk-duduk di tengah trek. Atur napas. Cuma lima menit saja, sebelum nanjak lagi. Tapi sering. Dan yang paling sering minta waktu untuk istirahat, ya saya ini! Untungnya semuanya teman terbaik saya di SMA dulu, jadinya tak ada keluhan sama sekali dari mereka. Yang jadi kendala waktu itu, waktu sudah jam tiga lewat, dan kandang badak masih jauh. Kantuk dan capai sudah tak tertahan..

"Oke ayo jalan lagi, gw uda siap," saya merasa sudah dapat angin.

Iring. Iring. Beriringan. Formasinya tetap sama. Dua teman saya yang sudah pernah naik gunung, ada di paling depan dan paling belakang. Saya nomor urut dua dari depan. Sesekali senter saya matikan, untuk menghemat. Senter yang terus menyala dari awal tentu saja senter yang paling depan. Seru. Kalau ada lubang yang paling depan akan teriak, "Awas lubang!" sambil menyoroti lubangnya dengan senter. Lalu yang dibelakangnya beriringan ganti-gantian menyorot lubangnya sampai yang paling belakang selamat lewat.

Kesetiakawanan bemar-benar diuji. Konon, sifat asli seseorang akan terlihat di gunung. Saya sudah buktikan sendiri. Di gunung keadaanya secara tidak langsung membuat kita tertekan. Nah, di saat tertekan seperti itu manusia biasa mengeluarkan sifat aslinya. Dan saya? Sifat saya memang agak manja, ketimbang empat orang teman saya. Satu orang teman, dia pemberani, karena apa-apa dia selalu bantu. Ada lagi yang pengeluh. Wah dari lima orang itu semuanya sifat aslinya keluar!

"Sebentar lagi sudah mau sampai kandang badak!" seru teman saya si pemberani. Dia hapal betul tanda-tanda jika kandang badak sudah dekat.

Mendengar kandang badak sudah dekat, yang lain jadi semangat. Tapi tetap saja tak kunjung sampai. Saya sempat berpikir, itu cuma akal-akalan dia saja agar semuanya semangat lagi. Sial. Tapi it works! Zzz..

Dan tiba-tiba saya kembali bikin ulah.. Saya sakit perut! Sialan! Saya benar-benar mau buang hajat! Di gunung! Hal yang paling saya khawatirkan kala itu!

Saya mengadu ke semuanya kalau saya sakit perut. Ah! Gara-gara makan beng-beng pikir saya! Dua beng-beng pagi buta plus berbatang gula merah! Di gunung pula! Ini akibatnya.. (sekedar mengingatkan, ini bukan rekayasa. Seluruh cerita ini tidak ada rekayasa sama sekali!)

Teman saya si pemberani, memberhentikan rombongan. "Lo boker aja di sana," dia nunjuk spot sebelah pohon gede. "Tapi lo gali dulu tanahnya," kata dia lagi.

Ah gila. Yang benar saja. Buang hajat di sebelah pohon gede, dipinggir trek pula. Pikiran kolot saya mulai bermain. Pohon gede=tempat setan! Belum lagi kalau ada pendaki lain lewat, malu tujuh turunan saya! Tapi demi seluruh penghuni gunung gede, saya benar-benar sudah tidak tahan! Peduli setan lah..

Sekitar 10 menit saya jongkok. Jongkok saja, sambil terus memanggil nama-nama teman saya. Takut ditinggal! Bahkan keempat kawan saya, akhirnya saya paksa duduk-duduk tiga meter saja dari tempat saya, karena saya merasa di amati entah oleh siapa di atas pohon sana. Sialan! Saya benar-benar takut. Gelap sekali. Eh teman saya malah nyenter anu saya. Lagi-lagi sialan! Ingin rasanya saya ambil hajatnya terus lempar ke muka dia! Aih, apa saya sudah tidak perjaka!?

15 menit. Dan saya sudah selesai. Ceboknya pake akua! Plus tisu basah! Benar-benar menderita! Tak lupa saya kubur lagi hajat saya, supaya tidak ada dendam diantara setan pohon gede. Hehe.

Semua senang semua gemilang. Kandang badak! Checkpoint!

Semuanya sudah kelelahan, saya sudah lupa dengan perasaan diamati dari atas pohon tadi. Yang saya pikirkan hanya istirahat. Karena besok akan ada rintangan lain sebelum menuju puncak. Lampu minyak dinyalakan. Semuanya bantu pasang tenda. Kami bawa dua tenda. Satu isi dua orang. Satu lagi di isi tiga. Sekitar 20 menit untuk pasang dua tenda.

Usai tenda di pasang. Di sekeliling tenda harus di gali semacam got kecil. Gunanya supaya kalau hujan airnya tidak banjir, tapi masuk di got kecil itu! Tak lupa taburkan garam di sekeliling tenda. Bukan buat masak! Tapi buat menahan kalau ada ular mau iseng..

Akhirnya semua istirahat dengan tenang. Dua teman saya masih sempat masak mie instant! Gembel, bikin saya lapar saja! Tapi saya terlanjur ngantuk jadi tidak ikut.

Grasak grusuk grasak grusuk, saya akhirnya bangun. Ternyata sudah siang, hampir jam 10. Dinginnya minta ampun, tiga jaket yang saya pakai, masih kalah sama dinginnya. Teman saya sudah masak mie instant. Dan siang itu, baru kelihatan, ternyata tak jauh dari tenda kami sudah ada sekitar tiga tenda lain yang merumput.

"Makan-makan!" teriak teman saya yang masak. Kali itu dia masak pakai telur. Nikmat sekali. Apapun juga enak kalau di atas gunung percayalah!

Karena tidak masak, jadi saya kebagian jatah cuci piring. Eh, cuci piring di atas gunung jangan pakai sabun! Mencemari lingkungan. Saya dan teman-teman dari awal sudah sepakat tidak mau aneh-aneh di atas gunung. Jadi cukup pakai air, dan di lap dengan tisu basah. Seluruh sampah dibawa serta lagi! (Kecuali tisu basah bekas cebok semalam. Itu saya kubur beserta hajat-hajatnya. Semoga setan pohon gede, tidak sadar kelakuan binal saya!)

Selesai berbenah dan gulung tenda, perjalanan dilanjutkan. Checkpoint kami hari ini tanjakan setan! Itu rintangan kali ini sebelum sampai ke puncak. Jadi tanjakannya curam, dari tanah. Naiknya harus satu-satu. Meski tidak perlu pakai tali naiknya, tapi tetap saja seram! Jarak dari dasar tanjakan setan ke atas sekitar 5 meter. Harus hati-hati disini.

Dari kandang badak ke tanjakan setan treknya relatih mudah. Karena hari sudah terang jadi ada adegan saling tinggal. Yang masih kuat boleh jalan duluan, tapi jangan jauh-jauh nanti hilang! Saya semangat sekali siang itu. Sambil mengemut gula merah, batu2 di tengah treak saya panjat. Pohon timbang saya langkahi. Semuanya dengan cepat. Malah saya dan seorang kawan adu cepat sampai ke tanjakan setan. Maklum, treknya sejalur jadi peluang nyasar minim. Seandainya treknya bercabang pasti ujungnya sama. Mulailah balapan terakbar siang itu. Saya dan converse vs teman saya dan sendal gunungnya. Menang mana coba?

Jawabannya saya tersengal-sengal sambil duduk di pohon plus makan beng-beng, menanti tiga orang kawan saya yang masih dibelakang. Teman saya yang satu sudah unggul di depan. Mungkin sudah sampai tanjakan setan.

Walau siang-siang. Sendirian di tengah trek cukup riskan loh! Bukan takut setan! Tapi saya takut ada binatang gunung! Beruntung tiga teman saya cepat sampai. Soalnya posisi saya sudah kepalang basah. Mau nyusul yang di depan, sudah terlalu jauh. Saya pun kapok adu balap lagi!

Lanjut menuju tanjakan setan!

Tak berapa lama sampai juga di tanjakan tersohor. Teman saya sang juara adu balap lagi asik ngerokok di atas batu. Dan benar saja, tanjakannya curam. Saya bahlan ragu bisa naik ke atas sana.

Teman saya si pemberani maju duluan dengan ransel carielnya. Sampai di atas dia taruh ransel lalu turun lagi ke tengah tanjakan untuk oper semua ransel cariel dari bawah. Disana waktu itu ada lima orang lain yang juga kesulitan naik. Jadilah saling bantu membantu menaikkan ransel ke atas.

Ngomong-ngmong ransel cariel, ransel saya merk Alpina warna abu-abu. Kapasitasnya 50 liter. Saya pinjam dari kakak saya. Itu Ransel sudah melanglangbuana ke berbagai gunung di bawa kakak saya loh. Gunung gede, gunung salak, gunung halimun, bahkan puncak jaya di Papua yang ada es di puncaknya. Ah saya bangga bisa pakai itu ransel!

Ngomong-ngomong soal ransel, sebelumnya saya sudah dapat wejangan dari kakak tercinta soal packing ransel. Kata dia barang-barang yang ringan sebaiknya di taruh di dasar ransel, yang berat taruh diatas. Supaya waktu di pakai nanti beban terberat ransel ada di pundak bukan di pinggang! Ah wejangannya benar-benar bermanfaat bagi saya!

Jadilah beragam snack dan kaos, saya taruh di dasar ransel. Baru diatasnya saya taruh kornet, gula merah, beras, kratingdaeng dan celana panjang serta jaket cadangan yang berat-berat. Memang 70% bahan makanan dibebankan diransel saya. Jadi kalau saya nyasar saya masih punya stok makanan! Sebaliknya teman saya akan kelaparan kalau saya hilang.. Hehe.. Teman-teman saya memang baik dan yahud! Tapi apalah arti beras, mie instant, kornet tanpa alat-alat masak yang ada di ransel teman saya. Huh, tak jadi yahud deh! *sigh

Akhirnya, kami semua sampai di atas tanjakan setan, plus kelima ransel! Saya jadi berpikir, bagaimana cara turun tanjakan setan, ketika pulang nanti. Soalnya kami semua memutuskan pulang lewat jalur yang sama kala itu, Sebenarnya ada jalur Gunung Putri untuk pulang, tapi kami urung, entah kenapa, tapi memang seperti itu perjanjiannya.

Usai tanjakan setan tidak ada lagi rintangan berarti. Kami tinggal naik ke atas puncak gunung gede! Ciri-ciri sudah mau sampai puncak itu mudah. Semakin kecil pohon disekitar, berarti puncak semakin dekat!

Kami sedikit bicara kala itu, untuk menghemat nafas. Lambat laun jenis pohonnya mulai berganti jadi pohon kecil. Saya tidak tahu apa jenis pohonnya. Mirip pohon edelweis tapi bukan. Dua teman saya teriak, "dikit lagi sampai!"

Saya makin cepat. Saya tidak pakai jaket sama sekali dari kandang badak tadi. Siang-siang tidak terlalu dingin, apalagi harus mendaki. Lalu benar saja, kami sampai di puncak! Ya, puncak gunung gede pangrango kawan!! 2.958 m. dpl atau 9,7 Km dari pintu gerbang pertama!
Kami semua langsung foto-foto. Waktu itu handphone kamera belum bumming di indonesia, kamera digital jg blm bumming di Indonesia. Jadi cm pakai kamera pocket film. Filmnya dibeli patungan yang isi 50. Potetik!

Aha saya pun foto-foto babibuta. Ah penampilan saya seperti kuli panggul! Dekil dan kotor! Peduli amat! Kuli juga manusia! Dan saya memang belum mandi dari kemarin..

Satu jam lami habiskan untuk foto-foto dan istirahat melihat pemandangan kawah gunung gede pangrango. Katanya sih waktu itu kawahnya masoh suka aktif. Asap belerangnya menyengat betul. Saya lempar kerikil ke dalam kawah, lalu asap belerang menyembur jauh di dasar kawah. Asiknya.

Perut kami sudah mulai lapar. Mau makan siang. Checkpoint kami setelah dari puncak adalah alun-alun Surya Kencana! Kalian belum pernah naik gunung gede? Maka kalian wajib sedih! Surya Kencana adalah surga kawan! Entah luasnya berapa hektar. Yang jelas surya kencana itu kawasan lain setelah kandang badak, yang memang khusus mendirikan tenda. Hanya segelintir orang yang mau mendirikan tenda di puncak gunung gede. Saya sih tak kebayang dinginnya macam mana.

Surya kencana sendiri letaknya di bawah, disisi lain dari tempat kami tadi naik atau 2.750 m. dpl. Jadi begitu sampai puncak, kami tinggal jalan menyusuri pinggiran puncak dan turun lagi ke sisi lain gunung. Dari puncak ke surya kencana sekitar setengah jam lebih perjalanan, karena jalanannya menurun. Di sini saya juaranya, karena saya pakai sepatu, jadi saya tidak takut menginjak batu-batu tajam. Saya melesat turun ke bawah. Kali ini sambil minum kratingdaeng. Sedikit-sedikit. Sedikit saya minum, sedikit saya kantongi. Saya pakai celana cargo, dengan kantong banyak, jado aman. Potongan gula merah dalam plastik kecil saya taruh di kantong kiri, kratingdaeng dikantong kanan. Kantong-kantong lain saya manfaatkan untuk taruh rokok, korek. Pisau kecil saya gantung saja di kaitan ikat pinggang. Sedari kandang badak pula celana kargonya saya gulung. Maklum. Gerah kaki saya!

Turun ke surya kencana kebalikan dari naik ke puncak sebelumnya. Kali ini semakin besar pohon sekitar berarti semakin dekat!

Kalau sudah turunan begini saya jadi ingin lempar ransel saja agar menggelinding ke bawah. Asal jangan sayanya saja yang gelinding!

Dan saya pun tiba di surya kencana! Kalian masih ingat perkataan saya tentang surga surya kencana?? Iya! Di surya kencana ada ratusan pohon edelweis! Ratusan kawan!! Edelweis, terhampar di hektaran-hektaran kawasan surya kencana! Di sana sudah ada puluhan tenda orang-orang yang dibangun. Mereka mencari spotnya masing-masing. Jaraknya berjauh-jauhan. Hamparan bunga abadi edelweis! Surga!

Satu hal yang saya kurang suka dari surya kencana adalah sumber mata airnya cuma satu di tengah-tengah, dan lokasinya agak menjorok ke dalam. Jadi agak mirip gua di tengah-tengah padang edelweis. Saya lebih suka sumber mata air di kandang badak soalnya mengalir panjang seperti sungai.

Saya langsung isi air ke dalam botol aqua, buat persediaan sepanjang malam. Maklum, kami dirikan tenda agak jauh dari sumber mata air. Eniwei, di gunung, airnya bisa langsung di minum. segar dan dingin pula!

Jam sekitar pukul 2. Kami langsung bangun tenda, lalu masak nasi. Menu kali ini nasi goreng kornet. Kami memang bawa bawang putih, merah dan cabai, untuk bikin nasi goreng. Nasi goreng jadi menu mewah di atas gunung!

Beruntung teman saya bawa pisau kater untuk potong bawang. Soalnya saya ogah pinjamkan pisau lipat kesayangan! Nanti pisaunya berbau bawang! Lebih baik pisaunya tumpul untuk buka kaleng, ketimbang tajam tapi bau bawang!

Sebelumnya sejumlah pisau lipat dan kater, bawanya pun harus petak umpet sama petugas di pintu gerbang. Di pintu gerbang seluruh bawaan akan diperiksa oleh petugas ranger gunung. Tidak boleh ada pisau, karena berbahaya. Tapi menurut saya dan kawan-kawan hal itu konyol, karena di gunung pisau jadi barang yang berharga dikala genting. Dengan pisau kita bisa survive kalau-kalau nyasar. Terlebih ada binatang buas! Jadilah pisau saya sembunyikan dalam sepatu.

Selesai pasang tenda dan makan, saya dan dua seorang teman langsung isi ulang dua lampu minyak yang kami bawa. Supaya nanti malam lebih terang, saya juga bikin lampu dadakan dari botol kratingdaeng yang diisi minyak. Sumbunya, kebetulan memang sudah siap dari Jakarta. Saya bikin tiga lampu kratingdaeng. Kalau di surya kencana, bukan setan dan binatang buas saja yang harus di waspadai. Tapi juga pendaki-pendaki lain. Wajar sajalah, walau senasib sepenanggungan, tapi niat pencuri siapa yang tahu. Saya dan kawan-kawan wajib waspada! Jadi saya perbanyak lampu untuk nanti malam.

Teman saya si pemberani mengumpulkan kayu-kayu ranting untuk bekal api unggun. Kami cuma semalam di surya kencana, sebelum akhirnya turun gunung esok hari. Jadi itu jadi malam terakhir kami. Harus ada api unggun dong!

Kayu yang sudah terkumpul, di susun sedemikian rupa membentuk piramid. Ya, macam api unggun pada umumnya lah. Eh tau-tau saya mau buang hajat lagi! Berengsek..

Langitnya masih sore. Masa iya saya buang hajat. Nanti dilihat orang-orang lain. Malu! Tapi saya pikir, dari pada nanti malam seram! Lagipula siapa yang mau menemani saya nanti?! Pasti semuanya mau santai-santai di tenda!

Akhirnya saya buang hajat lagi. Tadinya mau di dekat tenda, tapi dilarang sama empat teman saya. Yasudah. Saya pasrah agak menjauh dengan resiko pantat di gigit macan kumbang.

Saya bawa kayu dan pisau untuk senjata. Takut ada yang aneh-aneh! Saya juga pakai jaket, supaya kalau ada pendaki lain lewat saya bisa tutupi muka.
15 menit, dan selesai sudah. Lagi-lagi cebok pakai akua plus tisu basah, sampai jakarta pantat bisa berkerak pikir saya!

Saya balik ke tenda. Lagi-lagi teman saya memastikan bahwa hajatnya sudah saya kubur dengan rapi. Saya jawab saja sekenanya, "udah gw kubur! Gw kasi tanda pake kayu, kali aja lo mau bongkar lagi."

Kami pun foto-foto. Foto yang saya upload di atas itu tepat setelah saya buang hajat looh.. kikikikik..
Iya, seperti itulah hamparan Surya Kencana. Yang dibelakang saya itu ratusan bunga edelweis. Maaf kalau di fotonya ada tulisan aneh, itu saya edit jaman dulu, waktu masih hobi main MySpace. hehe.

Oke. Dan malam pun datang.

Kalian masih ingat saya bilang surya kencana itu surga? Ya ini puncaknya! Ratusan rasi bintang kawan! Ratusan rasi bintang nampak jelas tanpa malu-malu! Bisa dilihat dengan kasat mata! Rasi bintang biduk, bintang kejora, sampai rasi bintang layang-layang semuanya ada! Saya kurang beruntung karena tidak menemukan bintang jatuh semalaman. Sial.

Malam-malam disurya kencana, kami pesta makanan. Maklum malam terakhir, jadi rencananya bahan makanan mau kami habiskan. Kami hanya sisakan 30% untuk sarapan pagi dan makan siang besoknya.

Ya, saya keluarkan fanta, calpico dan mirinda kalengan. Jaman itu masih ada Mirinda dan Calpico! Cemilannya biskuit saja. Sebenarnya kakak saya sudah melarang keras bawa minuman kaleng. Soalnya cuma bikin berat dan tak begitu berguna. Dia menyarankan bawa bekal yang mengenyangkan saja dan fokus pada makanan, snack pun disarankan biskuit saja, ya karena mengenyangkan. Untuk air dia menyarankan cukup ambil dari mata air di gunung. Tapi saya tetap nekat bawa minuman kaleng dan sedikit beng-beng. Toh semua menikmati. Hehe..

Malam kian larut, saya putuskan masak air untuk bikin teh dan kopi. Lagi-lagi sambil merokok. Kali ini Marlboro rokoknya, saya benar-benar ngidam setelah seharian kemarin cuma kretek saja.

Malam itu saya pakai jaket tiga. Dinginnya lebih dingin ketimbang kandang badak, Kopi mendidih langsung adem seketika!

Ah asiknya. Besok kami pulang. Jadi malam ini bergadang saja sampai pagi buta. Kira-kira pukul 11.30 malam, kami mulai sulut api unggun. Kalau ada singkong mungkin sudah saya bakar di situ. Pasti nikmat.

Malam kian dalam. Eh ada yang main tebak-tebakan. Ada penghuni tenda lain memberi tebakan, lalu tenda lain yang tidak begitu jauh berusaha menjawab. Ah jadul sekali. Macam tahun 80an saja pikir saya. Sangat tidak Millenium kala itu! *Sigh.

Saya obrol-obrol saja sama kawan, sambil tiduran melihat ke langit. Bintangnya banyak betul. Saya belum pernah melihat bintang sebanyak itu dengan mata telanjang. Jadi saya senang sekali. Bahkan sampai detik ini saya masih punya hasrat pergi ke Surya Kencana, sayangnya saya terlalu takut fisik saya tidak begitu kuat ke sana. Saya ini jarng olahraga. Lah kalau liputan saja kerjanya cuma merokok terus, dan pulangnya pegal-pegal.

Seandainya ada yang mengajak saya naik gunung lagi, saya pasti akan memastikan kalau naiknya santai dan tidak buru-buru. Supaya bisa lebih banyak istirahat.

Bersambung..

Sabtu, 05 Desember 2009

Cicak!


SAYA merasa bosan. Dikamar ukuran 4x6 meter, saya tak tahu lagi mau berbuat apa. Sudah jam 3 pagi, tapi tak juga mengantuk.

Saya tatapi langit-langit kamar. Lama. Sambil menerawang, menyusun ulang memori saya hari ini. Tapi, tak ada yang spesial.

Lagi asik menatap langit-langit. Wah, saya lihat cicak! Cicak ukuran sedang. Eh sepertinya dia menatap saya! Saya tatap balik. Lama-lama kok jadi seperti meledek. Iya, itu cicak meledek saya! Ya, saya ledek balik saja! Wlueek... Gilanya saya.

Eh, eh dia dapat nyamuk. Asiknya dia. Tinggal hap lalu di tangkap. Seperti lagu jaman kecil dulu..

Hmm.. Saya jadi ingat masih punya senter laser hadiah dari liputan! Senter biasa tapi cahayanya laser merah kecil. Baterainya pakai baterai jam, isi tiga.

Saya ganggu saja itu cicak nakal pakai laser. Awalnya buntutnya saya sorot. Belum ada reaksi. Saya sorot badannya. Juga belum ada reaksi. Saya kesal. "Apa cicak ini buta?" pikir saya. Ah tidak mungkin. Kan barusan dia dapat nyamuk.

Saya coba sorot di sebelah matanya. Oh cicaknya bergerak! Sinar laser saya malah mau di makan! Saya sorot saja matanya. Dia diam.

Saya sorot lagi sebelah matanya. Dia mau makan lagi, tapi sinarnya saya jalankan menjauh. Eh dia kejar! Tapi ragu-ragu. Ah asiknya menggoda cicak. Cicak dungu! ahaha..

Awas saja kalau dia sampai buang hajat di atas muka saya. Saya timpuk pakai kertas nanti.

Saya menerawang. Sesampainya di sarang nanti, itu cicak pasti akan bercerita kepada teman-temannya. Mungkin kira-kira begini pembicaraannya:

Si cicak dungu: "Ah saya tadi lihat nyamuk. Tapi berwarna meraah! Nyamuk jenis baru, pasti lezat. Tapi susah saya tangkap."

Cicak lain: "Ah mana mungkin. Kamu mabuk barangkali!"

Si cicak dungu: "Benar kok. Berani sumpah. Coba saja kamu lihat, itu di lampu sebelah sana."

Cicak lain: "Ah masa sih."

Si cicak dungu: "Iya benar. Gerakannya lebih lincah dari nyamuk biasa. Bahkan terbangnya tanpa bunyi!"

Saya tertawa ringan. Seringan kapas. Dan cicaknya pun pergi kebalik bingkai foto. Lagi-lagi seperti meledek dengan meninggalkan bunyi ckckck.. Sial!

Ngomong-ngomonh soal cicak. Kakak saya takut cicak. Kalau dekat cicak dia pasti menjerit. Pernah dikamar mandi, tau-tau dia teriak, eh tak taunya cuma gara-gara ada cicak lompat ke tangannya.

Ngomong-ngomong soal cicak. Alangkah spesialnya binatang itu. Dia bersama nyamuk dan semut. Ya, tiga binatang itu sangat spesial bagi saya. Kenapa? Karena tiga binatang itu hampir pasti bisa dijumpai di setiap rumah. Rumah manapun. Rumah siapapun. Bahkan rumah presiden sekalipun. Pasti ada!

Ah saya jadi ingin coba sejam jadi cicak. Satu jam saja. Cuma mau tau rasanya merayap di tembok. Pasti asik. Bahkan di Malaysia sudah produksi film superhero bernama Cicak Man. Konyol. Tapi itulah cicak. Begitu mendunia. RJ

Jumat, 04 Desember 2009

Heroes bag. II

EH EH EH, saya cengeng lagi. Lagi-lagi saya terharu. Dang! Ada apa dengan saya??
Saya meliput pelepasan kontingen karateka Indonesia yang akan berlaga di Sea Games, Laos 2009. Hadir dalam pelepasan itu ketua Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI), Luhut B. Panjaitan.

Bapak Luhut menaiki mimbar pidatonya. Dia bilang: ”Di Indonesia ini, cuma dua orang yang bisa membuat bendera Merah Putih dikibarkan di negara lain, yang pertama adalah presiden, dan yang kedua adalah atlet.”

Iya. Atlet. Atlet yang berhasil juara dikompetisi intrernasional, maka bendera negaranya akan dikibarkan, plus lagu kebangsaan negaranya dikumandangkan.

Perkataan itu dijawab keras oleh atlet karateka Indonesia dengan teriakan ”HOSH!” yang artinya siap! Saya benar-benar terharu! Dang!

Lalu, bapak Luhut mulai bertanya pada satu persatu atlet yang hadir. Saya lupa nama-nama atletnya. Maklum totalnya ada 17 atlet yang hadir. Tapi saya masih ingat beberapa komentar. Ini nyata, tidak saya buat-buat. Begini komentarnya:

Atlet 1: ”Selama dua bulan saya sudah di genjot, latihan fisik dan mental. Saya siap meraih emas!”

Atlet 2: ”Saya tidak mau berkomentar banyak. Yang jelas saya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi merah putih!”

Dan Atlet 3:”HOSH! Saya siap bapak. Walaupun muka saya bonyok berdarah-darah, rahang saya pindah, saya siap meraih emas!”

Yang terakhir itu, entah saya harus terharu atau tertawa terpingkal-pingkal. Zzz..

Lalu, seluruh atlet mengadakan prosesi pelepasan dengan satu persatu mencium bendera merah putih. Diiringi lagu padamu negeri! Saya makin cengeng!!! Mata saya mulai berkaca-kaca. Saya mulai mojok ke tembok. Takut ketahuan nangis. Eh wartawan TVRI ngikutin saya mojok! Sial.

Yang jelas. Dari pendengaran saya. Secara garis besar seluruh atlet siap raih medali emas di Sea Games Laos 2009.

Selesai prosesi. Saya gegap gempita wawancara. Ismail, karateka Indonesia yang bakal turun di nomor ’kumite beregu’, mengaku kepada saya siap raih emas. (’Kumite’ adalah salah satu nomor pertandingan dalam cabang karateka, yang dilakukan dengan bertarung. Jadi nanti Ismail akan bertarung di sana. Nomor lain yang akan dipertandingkan adalah nomor ’kata’. Nomor ’kata’ itu lebih kepada seni/non-fighting , dengan menampilkan gerakan-gerakan karateka yang nantinya di nilai oleh juri.)

Jadi Ismail akan bertarung di Laos. Saya tanya persiapan dia. Dia bilang: ”Yang jelas sudah siap 100%, tinggal tunggu pertandingan saja.” Bagus batin saya. Semoga beruntung kawan. Zzzz..

Ismail bilang kepada saya, dia memprediksikan lawan terberatnya nanti adalah Vietnam dan Malaysia. Sea Games tahun lalu Ismail meraih emas. Saya yakin Ismail menang lagi. Dan tentunya supaya bendera Indonesia bakal berkibar di Laos. RJ

Workingclass Hero

Dalam postingan saya kali ini, saya mencoba agak lebih serius. Sedikit. Sedikit saja. Semoga membuka mata kita semua.

SAYA ini bukan apa-apa, hanya seorang wartawan olahraga ingusan. Pekerjaan ini kadang membosankan. Meliput peristiwa. Menulisnya menjadi berita kaya makna, informasi. Setiap hari.

Pekerjaan ini membawa saya kepada tanggung jawab moral untuk memberikan informasi seluas-luasnya pada khalayak ramai. Saya merasa lelah. Letih. Tenaga, pikiran saya kuras habis. Namun dibalik semua itu. Saya merasa bangga. Dan kebanggaan itu tak pernah bisa dibeli.

Saya meliput kepulangan Eko, atlet angkat besi (bekas penggembala kambing), yang meraih emas di Korea. Saya bangga. Saya meliput pelepasan atlet karateka Indonesia ke Sea Games. Saya bangga. Saya pernah melihat orang membeli koran, tempat saya bekerja, dan dia membaca berita yang saya tulis. Saya bangga. Dan saya adalah orang pertama dikeluarga besar saya, yang menjadi wartawan. Saya bangga!

Namun kebanggaan itu terkadang penuh tatap sinis kawan! Saya lupa sudah berapa kali. Tapi yang terakhir waktu saya meliput pelepasan atlet karateka ke Sea Games, Laos.

Bekal saya sama seperti tempo-tempo hari. Saya kenakan kaos. Gambarnya cukup band Ramones. Jeans butut, seminggu belum di cuci. Sebuah memo, saya kantongi di kantong belakang. Pulpen di kantong depan. Handphone saya selalu dalam posisi stand by merekam. Dan tentunya sepatu canvas merek converse yang telah melanglangbuana bersama saya mengarungi turnamen demi turnamen olahraga. Dan hampir terlupakan, tas selempang hitam merek Consina, yang kantongnya banyak dan tahan air. Lebih dari itu, saya bukan apa-apa.

Kalian tahu ketika gaya liputan saya (yang saya jabarkan di atas) itu dibawa ke hotel bintang lima? Jawabannya adalah tatapan sinis dari petugas lobi hotel, interogasi kasar dari satpam-satpam hotel, dan bahkan jawaban memilukan dari pelayan hotel. Karena saya tetap akan menjadi saya, maka saya tidak akan pernah kapok!

Saya juga tidak pernah marah. Saya anggap angin lalu saja. Mungkin bagi mereka, gaya berpakaian saya hanya pantas di bawa ke pasar malam. Menyedihkan! Tapi ya begitulah adanya.

Toh biasanya, tatapan sinis mereka berubah menjadi senyum dan ’sok kenal sok dekat’, saat mereka menyadari saya adalah wartawan. Saya kadang menilai mereka sebagai penjilat. Tapi peduli amat. Yang saya perlukan hanyalah liputan dan membuat berita. Itu saja. Selesai perkara.

Setiap pekerjaan memberikan kebanggaannya sendiri. Setiap pekerjaan mempunyai peranannya sendiri di masyarakat. Semua pekerjaan itu penting. Jadi saya tidak pernah mengganggap profesi tertentu itu rendahan, terlebih menjijikan. Kuli, pembantu, tukang cuci, tukang parkir dan segala macam pekerjaan level terbawah, mempunyai peranan vital yang signifikan bagi kehidupan kita. Begitu juga halnya dengan pekerjaan-pekerjaan level menengah ke atas. Saya berjanji, akan terus berusaha menghargai mereka semua. Mereka kan para pekerja-pekerja handal. :) RJ

Kamis, 03 Desember 2009

Ampuni saya tuhan..

Kehidupan ini begitu pelik. Semua menyadari itu. Tapi tak cukup sadar untuk tidak melulu hanya memikirkan kehidupan duniawi. Dan sebagian manusia. Termasuk saya. Begitu mudahnya melupakan tuhan. Ah tuhan. Maafkan saya!

Kita hidup bersama. Tapi nyatanya "mati" sendiri. Kalian tahu, mati disini bermakna ambigu. Maksud saya, mati dalam hal sendiri. Kesepian. Tak ada teman. Kalian tentu pernah merasa seperti itu. Merasa sendiri di tengah keramaian. Begitulah. Hidup.

Dan jika sudah begitu. Kalian. Kita. Saya. Baru ingat yang namanya tuhan. Akuilah.

Saya melupakan tuhan saya. Bahkan saya hanya memintanya membantu saya, tiap kali saya merasa mati. Tuhan selalu membantu saya. Dan seterusnya saya kembali melupakannya. Lalu merasa mati lagi. Meminta lagi. Di beri lagi. Lupa lagi. Mati lagi, begitu terus seumur hidup saya. Ampuni saya tuhan.

Pertanyaan yang besar terhadap tuhan, pernah datang dibenak saya, November 2008. Saat itu saya bertanya-tanya: "Mengapa saya dan dia dipertemukan, disatukan selama 4 tahun, untuk kemudian dipisahkan kembali?"

Lalu tuhan mengasihani saya. Dia memberi saya kesempatan. Kesempatan agar saya tidak merasa mati di dunia ini. Saya dan dia kembali dipersatukan lagi.

Kini lima tahun sudah. November 2009. Saya melontarkan pertanyaan yang tak jauh beda: "Mengapa saya dan dia dipertemukan, dipersatukan, jika akhirnya hanya saling cacimaki."

Lalu tuhan kembali mengampuni saya. Memberi nafas kepada hati saya. Saya dan dia, kembali disatukan.

Lalu Desember 2009. Tuhan mungkin sudah geram dengan tingkah laku saya. Saya ini bagai sampah. Selalu minta dibersihkan ketika sudah menumpuk di sudut rumah. Saya ini bagai sampah. Selalu minta dibakar ketika sudah menumpuk di pekarangan. Dan saya ini bagai sampah, yang selalu hadir kembali tak henti-henti mengotori lahan-lahan kosong di dunia.

Dia terlalu baik. Saya sadari itu. Mungkin Tuhan hanya ingin menyelamatkan dia dari sampah seperti saya. Tapi tuhan, mohon ampuni saya. Saya yang hanya ingat di saat saya merasa mati. RJ

Selasa, 01 Desember 2009

Aha!

(Saya ingatkan. Cerita ini tidak penting loh. Cuma pengalaman saya makan mie. Iya, makan mie! Jadi jangan kecewa ya bacanya.. Zzz..)

SAYA diselamatkan cewe saya! Lah kok bisa? Lah iya!
Begini ceritanya..

Saya lapar. Seharian bekerja! Di kantor, saya nggak sempat makan siang.

Akhirnya seperti biasa, saya ajak cewe saya makan sekalian antar dia pulang ke rumah.

Alih-alih belum ambil duit di ATM, jadi saya putuskan cari tempat makan yang bisa bayar pakai debit. Hmm..

Saya: "Aku lapar. Mari cari makan."
Cewe saya: "Ayo. Mari."
Saya: "Aku belum ambil duit. Cari yang bisa pakai debit."
Cewe saya: "Oke."

Dan.. Aha! Ada! Asyiknya! Nama tempatnya Mie Ceker Bandung. Begitu masuk, di pintunya ada sticker debit. Aha!

Untuk memastikan saya tanya dulu ke kasirnya: "emba, emba, bisa bayar pakai debit ya?" dan si emba jawab: "Iya bisa"

Baiklah. Saya pesan. Dan saya makan. Jadi, ya selamat makan!

Nyam-Nyam.. Enak. Sumpah banget enaknya. Bahkan waktu nulis cerita ini, saya jadi lapar lagi! :(

Saya pesan Mie Ceker Bandung Spesial. Isinya lengkap! Bakso, pangsit, ampela, jamur, dan pastinya sang primadona resto itu, ceker!

Cewe saya pesen mie yamin ceker. Standar. Hahaha..
Minumnya? Saya pesan es lemon tea. Begitu juga cewe saya. Nikmatnya! Slurrp. Baksonya yahud! Pangsitnya empuk! Hoohoo..

Saya makan dengan tenang. Meski dompet tak berduit, toh bisa bayar pakai kartu debit. Aha!

Saya menyumpit mie. Penuh gelora! Ceker demi ceker saya kuliti. Dengan kejam tentunya. Sesekali saya seruput kuahnya. Eh kurang pedas. Saya tambah sambal. Saya seruput lagi. Masih kurang pedas! Sambal lagi. Seruput. Kurang. Tambah sambal. Seruput. Kurang. Begitu terus sampai lima kali. #udik!

Saya kepedasan. Saya sikat es lemon tea. Ah asam! Wlueek! Minumannya terlalu asam!
Tau jeruk lemon? Berwarna kuning, bentuknya agak lonjong? Coba kalian belah itu jeruk lemon dua bagian. Lalu kalian hisap, emut2. Asam?? Ya seperti itu rasa minuman saya! #ngences

Dan waktu terus bergulir. Pukul 10 malam. Tinggal saya dan cewe saya yang menjadi pelanggan si mie ceker. Waktunya untuk pulang!

Saya menuju kasir. Saya: "Berapa semuanya emba?"

"45 ribu," jawab si emba kasir.

"Oke! no problemo, adios amigos," kata saya dalam hati, sembari mengeluarkan kartu debit kebanggaan.

Emba kasir: "waaah, kita cuma bisa pembayaran pakai debit BCA aja.."

Saya pun bengong. Saya kantongi lagi kartu debit Permata saya. Iya, kartu saya Permata bank! Bukan BCA! Dan artinya saya nggak bisa bayar!

Saya nggak ngerti kenapa malam itu si debit BCA tiba-tiba menjadi primadona. Dan kartu debit Permata saya seakan cuma jadi figurannya!

Saya sempat berpikir, ternyata adegan 'pelanggan harus mencuci piring karena nggak bisa bayar makan' seperti yang ada di film-film bisa jadi kenyataan! Sial!

Ceker-ceker sudah dilumat habis. Dompet tak berduit.

Saya lirik cewe saya. Saya tahu dia juga belum ambil duit di ATM. Lagi pula kartu dia ATM Niaga. Bukan BCA!

Dia korek-korek dompetnya. Dan. Aha! Aha! Aha! Ada selembar lima puluh ribuan.

Aha! Kami pun menari-nari dalam kepala masing-masing. Tarian menyambut keberuntungan! Keberuntungan yang entah datang dari goa mana..

Lima puluh ribu! Di bayar tunai! Kembali lima ribu! Clear. Mission accomplish! Pulang gegapgempita!
.......... Godeamus! Zzzz...

Eniwei. Saya sudah sering lupa ambil duit di ATM loh. ATM Permata memang agak jarang. Bahkan saya lebih sering ambil uang lewat ATM bersama. Di potong lima ribu pertransaksi. (nggak bermaksud menjelek-jelekkan bank permata loh! Suer! #TakutKayakPritaLagi).

Yah, begitulah. Dan akhirnya. Saya pun jadi bertanya-tanya. Ada berapa kata Aha! yang saya tulis di cerita ini.. Eniwei. Benar kan ceritanya nggak penting.. Saya sudah bilang loh.. Hmm.. RJ